Ahmad Zain An Najah,
Kenapa Istighfar ?
Manusia yang hidup di dunia ini tidak bisa luput dari kesalahan. Dalam bahasa Arab manusia disebut ” An Nas ” yang berarti makhluq yang pelupa. Berkata Ibnu Abbas : ” Nabi Adam as lupa terhadap janji Allah, maka dinamakan manusia. ” ( [1] ) . Salah satu cara menutupi kelupaan dan kesalahan tersebut adalah dengan istighfar ( meminta ampun kepada Allah swt ). Oleh karenanya, Allah dalam banyak ayat memerintahkan kaum muslimin untuk beristighfar dan memohon ampun kepada-Nya atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Sebagaimana yang tersebut dalam hadist qudsi :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( قال الله تبارك وتعالى : ” يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار ، وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم )
Rosulullah saw bersabda : Allah berfirman : ” Wahai para hamba-Ku , sesungguhnya kamu membuat kesalahan pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu . ( [2] )
Orang yang merasa tidak pernah berbuat salah adalah orang yang menyalahi fitrah dan menyalahi hukum alam yang telah diletakkan Allah dalam kehidupan ini. Hal ini telah diterangkan oleh Rosulullah saw dalam suatu haditsnya :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ، ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم )
Rosulullah saw bersabda : ” Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika kamu tidak pernah berbuat dosa, maka Allah akan mematikan kamu dan menggantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka meminta ampun kepada-Nya, kemudian Allah akan mengampuni mereka.” ( [3] )
Maka, sebagai orang yang beriman hendaknya kita mengakui bahwa setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan, kemudian selalu memohon ampun kepada Allah swt. Untuk menuju kearah itu, tentunya kita harus mengetahui seluk beluk istighfar itu sendiri , apa hakekatnya , apa saja keutamaannya, bagaimana cara beristighfar, kapan waktunya , dan hal-hal lain yang berkaitan dengan istighfar.
Arti Istighfar
Istighfar berarti meminta ampun kepada Allah, dengan harapan agar Allah menutupi dan memaafkan dosa-dosa yang pernah dilakukan-nya, serta tidak menghukumnya. ( [4] )
Di sana ada pertanyaan : apa perbedaan antara istighfar dengan taubat ?
Jawabannya : Istighfar kalau disebut dalam Al-Qur’an dan hadist secara sendiri maka berarti taubat juga. Akan tetapi kalau istighfar dan taubat disebut bersamaan dalam satu kalimat, maka perbedaan antara keduanya adalah bahwa istighfar : meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Sedang taubat adalah kembali kepada Allah supaya dijauhi dari dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan yang akan datang. Jadi dosa itu ada dua, yang pertama adalah dosa yang telah berlalu, maka obatnya adalah istighfar, dan yang kedua adalah dosa yang akan datang, maka obatnya adalah taubat supaya tidak terjebak di dalamnya dikemudian hari. ( [5] )
Keutamaan atau kekuatan istighfar
Istighfar mempunyai beberapa faedah dan keutamaan, diantaranya adalah :
Pertama : Istighfar menyebabkan terhapusnya dosa-dosa dan kesalahan.
Rosulullah saw bersabda :
ما من رجل يذنب ذنبا ثم يقوم فيتطهر ثم يصلى ثم يستغفر الله إلا غفر له ، ثم قرأ هذه الآية ( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ )
Rosulullah saw bersabda : ” Tidak ada satupun seorang hamba yang berbuat suatu dosa, kemudian berdiri untuk mengambil air wudlu, kemudian melakukan sholat dan beristighfar untuk meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Rosulullah saw membaca surat Ali Imran , ayat : 135, yang artinya : “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. “ ( [6] )
Beberapa pelajaran dari hadist di atas :
Pertama : Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, akan tetapi orang yang bertaqwa sebagaimana yang tersebut dalam surat Ali Imran, ayat 135 diatas, salah satu sifatnya adalah jika ia melakukan kesalahan segera beristighfar, mengakui kesalahannya serta memohon ampunan dari Allah swt.
Kedua : Salah satu cara untuk bertaubat dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah dengan berwudlu, kemudian melakukan sholat, boleh dua rekaat atau lebih, kemudian setelah sholat beristigfar memohon ampun kepada allah swt. Sholat tersebut oleh sebagian orang disebut ” Sholat Taubah ” . Kalau kita perhatikan dari bunyi hadist di atas, bahwa sholat taubat sangatlah mudah dan ringkas. Bacaan-bacaan di dalamnya sebagaimana sholat biasa, dan shalat taubat seperti ini adalah sholat taubat yang benar. Adapun sholat taubat yang dilakukan oleh sebagian orang dengan melakukan sholat 12 rekaat pada malam senin dengan didahului ritual mandi dan sholat witir, kemudian diharuskan membaca bacaan-bacaan tertentu didalamnya, adalah sholat bid’ah yang tidak mempunyai landasan kecuali hadist maudhu’ dan batil, yang tidak boleh diamalkan oleh setiap muslim. ( [7] )
Dosa dan maksiat yang ada dalam diri kita, bagaikan penyakit dalam tubuh manusia, dia akan memberatkan tubuh, mengganggu gerakannya, memperlambat kecepatannya, memandulkan kecakapannya, memusingkan kepalanya, membuat nyeri di perut, membuat pegal di badan, membuatnya tidak bernafsu untuk makan, tidak selera untuk minum dan tidak enak untuk tidur, tidak bisa konsentrasi dalam kerja. Makanya dengan istighfar penyakit dosa dan maksiat itu akan dihilangkan dan dihapus oleh Allah swt, sehingga hati ini menjadi lebih tenang dan wajah menjadi cerah, semangat menjadi tumbuh kembali, badan menjadi segar dan bugar.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( قال الله تبارك وتعالى : يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك ولا أبالي )
Rosulullah saw juga bersabda : Allah berfirman : ” Wahai anak adam, walaupun dosa kamu mencapai setinggi langit , kemudian kamu beristighfar memohon ampun kepada –Ku, maka niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. ” ( [8] )
Hadist di atas mengajak kepada siapa saja yang telah berbuat dosa dan maksiat walaupun sebanyak apapun juga, untuk tidak putus asa dari rahmat Allah…jangan sampai ia menganggap atau mengira bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya lagi. Dalam hadist qudsi diatas Allah berfirman ” Wala Ubali ” artinya Aku tidak peduli berapa banyak dosa-dosa yang pernah kamu kerjakan wahai anak Adam.
Beberapa bulan yang lalu, seseorang berkonsultasi kepada saya, dan bertanya apakah Allah mengampuni dosa-dosanya selama ini, karena dia telah banyak mabuk-mabukan dan minum mimuman keras, bahkan sampai berzina berkali-kali ?
Saya mengira orang yang bertanya demikian tidaklah sendiri, banyak dari umat Islam ini yang tidak mengetahui bahwa Allah swt Maha Pengampun, mengampuni segala dosa baik yang besar maupun yang kecil, kecuali dosa syirik.
Kejadian ini mirip dengan kisah seorang penjahat kelas kakap yang pernah membunuh 99 orang secara dhalim, karena merasa berdosa orang tersebut mendatangi seseorang yang terkenal dengan ahli ibadat, ketika ia bertanya apakah dirinya masih ada kesempatan untuk bertaubat ? Ahli ibadat tersebut menjawab : ” Tidak ada ” . Karena kecewa dengan jwaban tersebut, akhirnya ahli ibadat tersebut dibunuhnya juga, dengan demikian orang yang dibunuhnya lengkap menjadi 100 orang. Kemudian dia bertanya kepada seorang alim ( yang mengetahui ilmu syar’I ), sang alim tersebut menjawab bahwa pintu taubat masih terbuka lebar baginya. Kemudian sang alim tersebut menyuruhnya pindah ke daerah yang lingkungan baik agar bisa melaksanakan ibadat dengan benar. ( [9] )
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas :
Pertama : Allah telah menggerakkan hati orang yang bermaksiat , sehingga ada keinginan untuk bertaubat, atau dengan kata lain : Allah telah memeberikan taufik-Nya kepada orang tersebut untuk bertaubat. Tanpa taufik dari Allah, seseorang tidak akan mempunyai kemauan, bahkan tidak akan tergerak hatinya sedikitpun untuk bertaubat. Dari sini kita ketahui betapa pentingnya taufik dari Allah swt, maka hendaknya kita selalu memohon kepada Allah swt agar diberikan taufik untuk bisa berbuat baik,memeohon kekuatan untuk bisa menghindari hal-hal yang tidak baik , dan dijauhi dari bermaksiat kepada Allah swt.
Kedua : Ahli ibadat yang tidak punya ilmu, yang dalam hadist di atas disebut sebagai ” rahib ” ( seorang pendeta ) adalah orang yang rentan terjerumus dalam kesesatan dan akan menyesatkan orang lain. Ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh para ulama tafsir bahwa maksud kalimat ” wala ad-Dhollin ” dalam surat Al Fatihah adalah orang-orang Kristen, termasuk di dalamnya para pendetanya yang semangat beribadat, akan tetapi tidak mempunyai ilmu, sehingga dicap oleh Allah sebagai golongan yang sesat. Oleh karenanya kita diwajibkan untuk selalu membaca surat Al Fatihah dalam sholat lima waktu sebanyak 17 kali, yang di dalamnya terdapat doa memohon kepada Allah agar dijauhkan dari jalannya orang-orang kristen yang sesat.
Pendeta di atas dikatakan sesat dan menyesatkan, karena dia tidak mengetahui bahwa Allah mengampuni segala dosa, kecuali dosa syirik, kemudian dia berfatwa kepada orang yang ingin bertaubat bahwa pintu taubat telah tertutup. Akibat kesesatannya itu akhirnya dia terbunuh secara tidak terhormat.
Ketiga : Seorang yang alim ( mempunyai ilmu syar’i) adalah sosok yang mampu memberikan penerangan dan pencerahan kepada manusia karena ilmu yang dimilikinya. Sehingga manusia menemukan kebahagiaan hidupnya baik di dunia maupun di akherat.
Keempat : Lingkungan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Orang yang membunuh 100 orang tadi adalah hanyalah salah satu korban dari lingkungannya sendiri.
Kelima : Pentingnya mencari ilmu syar’i. Seorang pembunuh 100 orang bisa menemukan kebahagian hidup karena berusaha mencari ilmu syar’I, sehingga dia bertemu dengan seorang alim yang menunjukkan padanya jalan yang benar.
Catatan :
Kisah pembunuh 100 orang di atas bukan berarti mengajak seseorang berbuat jahat seenaknya sendiri dengan dalih Allah akan mengampuni dosa-dosanya jika ia beristighfar. Hal itu dikarenakan dua hal :
Pertama : Seseorang yang telah berbuat jahat tidak mengetahui apakah dia akan hidup lama sehingga bisa beristighfar kepada Allah swt. Bagaimana ketika dia sedang berbuat jahat atau sedang bermaksiat kemudian tiba-tiba Allah mencabut nyawanya ? Bukankah dia akan merugi karena mati dalam keadaan bermaksiat dan suul khotimah.
Kedua : Anggap saja ia bisa hidup lama, akan tetapi apakah yakin dia akan bisa sadar dan tergerak untuk beristighfar kepada Allah swt ? Sebagaimana yang disebut di atas bahwa bertaubat itu adalah taufik dari Allah swt, tanpanya manusia tidak mungkin ada keinginan untuk bertaubat.
Kekuatan Kedua: Istighfar menyebabkan seseorang tinggi derajatnya di dunia dan di akherat.
Orang yang selalu istighfar, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan di akherat. Tinggi derajatnya di dunia, karena orang yang selalu beristighfar akan selalu hati-hati dalam berbuat, seandainya ia terjatuh ke dalam suatu kesalahan ataupun dosa segera ia ingat Allah swt dan memohon ampun kepada-Nya.Orang seperti ini akan disenangi dan dihormati oleh masyarakat sehingga secara otomatis derajatnya akan menjadi tinggi di mata mereka.
Tinggi derajatnya di akherat, karena Rosulullah saw pernah bersabda :
إن الله عز وجل ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة ، فيقول : يا رب أني لى هذه ؟ فيقول : باستغفار ولدك لك
” Sesungguhnya Allah telah mengangkat derajat seorang hamba sholeh di syurga. Hamba tersebut bertanya kepada Allah : ” Wahai Rabb ! kenapa derajat saya jadi terangkat ? Allah berfirman : Itu, karena anakmu memohonkan ampun atas dosa-dosamu . ” ( [10] )
Derajat hamba tersebut menjadi tinggi di syurga karena anaknya selalu memintakan ampun atas dosa-dosanya , bagaimana kalau dia sendiri yang beristighfar dan memohon ampun kepada Allah atas segala dosanya, tentunya derajatnya akan naik lebih tinggi.
Hadits di atas, secara tidak langsung memerintahkan kepada umat Islam akan selalu mendoakan orang tuanya, memohonkan ampun atas dosa-dosanya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
Berkata Ibnu Taimiyah : ” Istighfar bisa memindahkan seorang hamba dari perbuatan yang jelek kepada perbuatan yang terpuji, memindahkannya dari suatu amalan yang belum sempurna menjadi sebuah amalan yang sempurna, dan meninggikan seorang hamba dari posisi yang rendah menuju posisi yang lebih tinggi darinya bahkan lebih lengkap. ” ( [11] )
Kekuatan ketiga : Istighfar membuat hati menjadi bersih dan bening.
Seorang muslim yang selalu beristighfar dan memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang ia perbuat, tidak diragukan lagi hatinya akan menjadi bening dan bersih. Bagaimana tidak bening, kalau setiap saat ia selalu mengakui kesalahan yang ia lakukan, selalu menjaga dirinya agar tidak terpelosok dalam hal-hal yang akan mengotori hatinya. Orang yang hatinya bening biasanya tidak pendendam dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dalam hal ini Rosulullah saw bersabda :
إن العبد إذا أخطأ خطيئة تكتت في قلبه نكتة سوداء ، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه ، وإن عاد وزيد فيها حتى تعلو قلبه ، وهو الران الذي ذكر الله (كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ)
” Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar ( memohon ampun ) serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi. Jika ia melakukan kesalahan lagi, dan menambahnya maka hatinya lama-kelamaan akan menjadi hitam pekat. Inilah maksud dari ” al-Raan ” ( penutup hati ) yang disebut Allah dalam firman-Nya : ” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.(Qs Al Muthoffifin : 14 ) ” ( [12] )
Beberapa pelajaran dari hadist di atas :
Pertama : Seorang manusia pasti tidak pernah luput dari kesalahan.
Kedua : Kesalahan yang dilakukan manusia akan membekaskan warna hitam pada hatinya. Dan bekas itu tidak akan hilang kecuali kalau dia beristighfar kepada Allah swt. Oleh karenanya, kita tidak boleh meremehkan dosa walaupun kelihatan kecil. Karena yang kecil ini lama-kelamaan akan menjadi besar. Para ulama mengatakan :
لا تحقرن صغيرة إن الجبال من الحصي
” Janganlah engkau meremehkan dosa kecil …. Sesungguhnya gunung itu merupakan kumpulan dari kerikil.”
Pernyataan ini dikuatkan dengan suatu hadist bahwasanya Rosulullah saw bersabda :
إياكم ومحقرات الذنوب فإنهن يجمعن على الرجل حتى يهلكنه
” Janganlah engkau meremehkan dosa, karena dosa-dosa itu kalau terkumpul pada diri seseorang, niscaya akan mencelakakannya. ” ( [13] )
Ketiga : Salah satu sifat orang yang bertaqwa adalah jika ia melakukan dosa ataupun kesalahan baik yang kecil maupun yang besar, dia akan segera ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa dan kesalahan yang diperbuatnya, sebagaimana yang pernah diterangkan di atas.
Keempat : Orang-orang yang sering meremehkan dosa-dosa kecil, apalagi yang besar dan tidak mau beristighfar, hatinya akan menjadi hitam dan keras, bahkan lebih keras dari batu. Sulit baginya untuk menerima nasehat dan peringatan. Hatinya tidak bergetar sedikitpun ketika dibacakan ayat-ayat Allah, tidak pernah menangis karena takut akan dosa-dosanya, dan tidak takut dengan adzab Allah. Orang seperti ini tidak pernah merasakan nikmatnya keimanan, tidak pernah merasakan lezatnya bermunajat dengan Allah swt, bersimpuh di depan-Nya mengharap rahmat-NYa dan takut dengan adzab dan siksaan-Nya. Orang seperti ini akan merasa berat jika diajak untuk melakukan ibadat, hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, karena tidak pernah mengingat Allah swt, padahal Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( [14] )
Kekuatan Keempat : Istighfar menyebabkan turunnya rahmat dan kasih sayang dari Allah swt.
Kalau seorang anak yang berbuat salah dan melanggar perintah orang tuanya, kemudian tiba-tiba anak itu datang kepada orang tuanya seraya mengakui dosa dan kesalahan yang telah ia perbuat, serta memintanya maaf, maka biasanya orang tua yang baik dan perhatian terhadap perkembangan anak, dia akan memaafkan kesalahan yang diperbuat anaknya, bahkan dia semakin sayang kepadanya, karena ia berbuat jujur dan mau meminta maaf. Contoh ini hanyalah untuk memperjelas masalah sesungguhnya - dan Allah memiliki permitsalan yang lebih tinggi dan mulia- yaitu jika seorang hamba yang telah berbuat dosa dan melakukan kesalahan, kemudian secara sadar dia ingin bertaubat dan mengakui segala dosa-dosanya sambil bersimpuh di hadapan Allah swt seraya beristighfar memohon ampun atas segala kekhilafan dan dosa yang telah diperbuatnya, niscaya Allah akan mengampuninya, serta memberikan rahmat dan kasih sayang-NYa kepada hamba tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman :
قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” ( [15] )
Ayat di atas menerangkan bagaimana nabi Sholeh melarang kaumnya untuk berdoa memohon disegerakan adzab, sebaliknya nabi Sholeh menganjurkan mereka untuk selalu beristighfar memohon ampun kepada Allah atas segala dosa, agar rahmat Allah turun kepada mereka.
Orang-orang yang hidupnya susah, ataupun yang mempunyai banyak problematika yang tidak kunjung selesai, ataupun punya cita-cita yang belum kesampaian, atau takut terhadap sesuatu yang akan menimpanya, atau terhadap sesuatu yang mengancam dirinya, hendaknya mereka selalu beristighfar kepada Allah swt, dengan harapan Allah akan memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya dan memudahkan segala urusan serta dijauhi dari segala marabahaya. Itu semua masuk dalam katagori rahmat dan kasih sayang Allah swt.
Monday, May 12, 2008
cintaku hanya untuk Allah..

saudara2 ku yang dirahmati Allah sekalian..
sering kali kita lihat,manusia mengakui dirinya cinta pada Allah..tapi adakah itu namanya cinta pada Allah andai jiwa dan raganya milik kekasih hati?
sering kali juga kita merungut..kenapala solatku tak khusyuk..?
jawapannya..hanya pada kita iaitu selaku pemilik hati dan jiwa ini..
saudaraku yang di sayangi..mane mungkin cahaya Allah itu menembusi hati yang kotor dgn maksiat dan titik2 hitam...
cuba renungkan,,dalam masa 24 jam sehari, banyak manakah masa yang kita ambil untuk mengingati Allah..? ketika solat pun belum tentu kita ingat pada Allah bukan? andainya di dalam sehari kita hanya memenuhi ibadah seharian kita dengan ibadah2 fardhu sahaja, sungguh rugilah diri kita...
sesungguhnya amalan2 ibadat sunat ibarat perhiasan bagi mukmin yang bertaqwa..
bayangkanlah betapa tingginya semangat jihad Zainab al Ghazali tika mana dirinye menerima seksaan yang tidak tertanggung oleh seorang insan lemah bergelar wanita..
namun, kekuatan iman mengatasi segalanya...
saudaraku...
andainya kita kekurangan harta..
andainya kita tidak punye apa di dunia yang sementara ini..
bersyukurlah atas nikmat islam, iman dan ihsan yang masih kita miliki...
mata terjaga, hati terpelihara..

Isu pornografi dan pornoaksi masih terus bergulir. Majalah-majalah yang mengandung unsur pornografi dituntut untuk tak terbit lagi. Dukungan terhadap RUU Anti pornografi dan pornoaksi terus mengalir, menuntut untuk segera disahkan.
Pornografi dan pornoaksi berhubungan erat dengan maksiat inderawi terutama penglihatan. Mata adalah indera yang pertama kali menangkap materi-materi pornografi dan pornoaksi. Mata adalah yang pertama kali melakukan kejahatan dengan melihat hal-hal yang diharamkan. Dari mata, setan akan melanjutkan tipu dayanya ke bagian tubuh yang lain, terutama kepada pengendali seluruh anggota badan, yaitu hati. Karena itu, menjaga pandangan adalah hal yang diperintahkan dalam Islam.
Kesucian hati amat berhubungan dengan masalah menjaga pandangan. Allah memberikan predikat lebih suci bagi orang yang menjaga pandangannya.
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" (An Nur: 30)
Menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah memberikan tiga manfaat yang besar dan mulia. Ketiga manfaat itu adalah manis dan lezatnya iman, cahaya hati dan kebenaran firasat, serta timbulnya kekuatan, keteguhan, dan keberanian hati.
Sunday, May 11, 2008
inilah kek batik yang ana wat semalam..hu3..
isteri derhaka
Assalamu'alaikum.
semoga cita dibawah ada manfaatnya..
Akhirnya setelah dua tahun menghilang diri, Normah kembali ke rumahnya. Seperti dahulu, dia masih cantik bergaya. Lenggoknya masih gemalai, pinggang masih ramping, gincu masih merah dan mekap masih tebal. Jika berselisih, aroma pewanginya masih kuat menusuk hidung.
Namun bezanya, Normah kelihatan tidak begitu ceria. Zahirnya dia begitu anggun tapi wajahnya terlukis warna yang muram dan lesu. Tutur katanya perlahan dan tidak bermaya seperti orang keresahan.
"Kenapa awak balik? Pergilah ikut jantan. Awak tak ada pun saya boleh jaga anak-anak kita ni!!" jerkah suaminya, Halim sebaik melihat Normah pulang dengan menjinjing sebuah beg besar.
Normah tidak menjawab kerana dia tahu, itu memang salahnya. Dia Cuma berdiri di pintu dan menundukkan muka. Halim sebaliknya terus membelasah isterinya itu dengan kata-kata keras. Sudah lama geram itu menggelodak di hati, lalu inilah masa untuk melepaskannya.
Normah masih terpaku di muka pintu. Dikesat air mata yang bergenang. Tiada sepatah perkataan pun di balasnya kata-kata Halim itu kerana hajatnya pulang bukanlah untuk bertengkar. Hasratnya Cuma satu, untuk pulang ke pangkuan suami dan anak-anak.
Jika diikutkan hati memang hendak dihalaunya Normah, tapi disebabkan anak-anak, Halim menahan juga kemarahannya. Dibiarkan Normah masuk ke rumah yang telah lebih dua tahun ditinggalkannya itu.
Bagi Halim, kepulangan Normah tidak membawa apa-apa erti lagi dalam hidupnya. Malah ia cuma memulakan semula kekalutan yang sudah dirungkaikannya, mengeruhkan hidup yang mula jernih dan memarakkan semula api yang telah dipadamkan.
Dua tahun dahulu, Normah meninggalkan Halim dan dua anaknya, Iffa, 5, dan Aina, 2.Yang ditinggalkan hanyalah sekeping nota menyatakan yang dia ingin hidup bersama kekasihnya.
" Saya rasa kita dah tak ada persefahaman lagi. Saya mahu hidup bahagia dengannya" demikian antara lain nota yang ditinggalkannya untuk Halim.
Kesalnya dia dengan tindakan Normah tidak terkata. Halim akui sejak akhir-akhir ini Normah sudah berubah. Kalau dulu layanannya begitu baik, sekarang mula dingin. Pantang silap sedikit, mulalah naik angin. Kata-katanya pula, selalu saja diiringi sindiran. Sudahlah begitu, sering pula Normah meminta barang-barang mewah di luar kemampuan Halim. Itulah yang menghairankan Halim.
Lama-kelamaan, Halim terhidu pula berita Normah menjalin hubungan sulit dengan lelaki berada. Dia ada bertanya tentang hal itu, namun Normah pantas menafikannya. Walaupun Halim menekannya dengan cerita dan bukti-bukti, tapi Normah tetap tidak menidakkannya. Malah dituduh pula suaminya cemburu buta.
Nah, sekarang terbukti sudah kebimbangannya itu. Tapi apa yang boleh dilakukan, nasi sudah menjadi bubur.
Sejak Normah meninggalkannya, hidup Halim tidak terurus. Terpaksalah dia membesarkan anaknya itu sendirian. Dialah ibu dialah bapa. Dengan gajinya sebagai penyelia kilang yang tidak seberapa dan menyewa pula di sebuah rumah di pinggir Kuala Lumpur, tentulah sukar untuk dia menguruskan hidup.
Kalau kanak-kanak lain selalu bertukar pakaian, anak-anaknya dengan baju dua tiga pasang itulah.
Makan yang mewah jauh sekali, kecuali apabila dia mendapat gaji.
Rutin hidupnya, awal pagi menghantar anak-anaknya ke rumah ibunya dan malam menjemput mereka pulang. Dialah yang memasak dan mengemas rumah. Kadangkala adik perempuannya turut membantu menguruskan keluarganya.
Memang hidpnya sukar, tapi Halim belum tergerak untuk berkahwin lagi. Baginya, biar susah macam mana pun, semua halangan itu akan dirempuhinya. Tambahan pula Normah masih tidak diceraikan.
Halim juga mahu membuktikan kepada Normah bahawa tanpa wnita itu, dia boleh menguruskan keluarga. Dan juga, kalau kemewahan yang menyebabkan Normah meninggalkannya, Halim ingin buktikan bahawa tanpa wang yang banyak sekalipun dia boleh hidup bahagia.
Ternyata tanpa Normah, Halim mampu membesarkan anak-anaknya seperti ibu bapa lain. Iffa dan Aina juga kian lama kian melupakan ibu mereka. Malah melihat gambar pun mereka benci.
Bukan Halim yang menghasut tapi kerana Normah sendiri yang bengis terhadap anak-anak.
Kerana itulah, kepulangan Normah membangkitkan semula kemarahan Halim. Tambahan pula Halim mendapati ada sesuatu yang tidak kena dengan perut Normah. Ia membuncit seperti sedang hamil. Bagaimanapun dia tidak mahu bertanya kepada wanita itu.
"Tempat awak di sana!" kata Halim menunjukkan Normah ke arah sebuah bilik kecil. Di dalamnya ada sebuah tilam bujang yang kusam. Bertompok sana, bertompok sini.
"Nak alas, cari sendiri," kata Halim, lalu menyindir "itupun kalau awak ingat kat mana nak cari...." Normah ditinggalkan sendirian.
Malam itu, Normah tidur seorang diri dalam bilik sempit dan penuh barang-barang. Sementara Halim tidur bersama dua anaknya di bilik lain. Bila anak-anaknya pulang, Normah cuba membelai mereka tapi Iffa dan Aina segera menjauhkan diri. Dipujuk dengan bermacam-macam cara pun tidak berkesan. Terpaksalah Normah membawa diri ke dalam bilik dan menangis teresak-esak.
Begitulah keadaan mereka setiap hari. Normah menjadi orang asing di dalam rumahnya sendiri sementara Halim meneruskan hidup seperti biasa. Mereka tidur berasingan dan setiap pagi, anak-anak dihantar ke rumah ibunya tidak jauh dari situ.
Ternyata telahan Halim tepat. Dari sehari ke sehari dilihatnya perut Normah semakin membusung. Lain macam bulatnya. Setelah didesak dan dijerkah berkali-kali, Normah terpaksa mengaku dirinya berbadan dua.
"Aku dah agak. Patutlah awak balik...nak suruh aku jadi bapak pada budak tu, kan? Nak jadikan aku pak sanggup?" Halim melepaskan paku buah keras.
"Bukan macam tu bang, saya..." tapi belum pun sempat Normah menghabiskan cakap, Halim memintas " Saya apa?! Saya tak buat benda tak senonoh tu? Budak tu anak aku? Tolong sikit....bila masa aku sentuh badan kamu tu? Hah?"
Bagi menutup malu, Normah memakan makanan yang tajam, pedas dan berasid untuk menggugurkan kandungannya, tetapi gagal. Perutnya terus-menerus membesar.
Gagal cara itu, dia pergi ke klinik swasta pula. Bagaimanapun doctor tidak mengizinkan kerana risikonya terlalu tinggi. Kata doktor, kandungannya sudah besar dan jika digugurkan, ia boleh mengundang maut.
Semakin hari jiwa Normah semakin tertekan. Perut kian memboyot sedangkan anak dan suami pula tidak menghiraukan kehadirannya. Dia menjadi melukut di tepi gantang dalam rumah sendiri. Suami menjauhkan diri bila hendak mengadu dan anak pula tidak menganggapnya ibu untuk mereka bermanja.
Tidak ada jalan lain, Normah meminta Halim menghantarkan dia ke rumah ibunya. Tentu saja Halim
tidak membangkang. Memang itu yang dia mahukan. Namun sambutan ibu bapanya juga mengecewakan.
"Dua tahun kamu tinggalkan suami dan anak, tiba-tiba baru dua bulan balik perut kamu dah besar macam ni. Huh...memang patut pun Halim buat macam ni. Kamu derhaka pada dia!" kata bapa Normah, Haji Shafie bila mendapati anaknya itu hamil.
Dari sehari ke sehari tekanan perasaannya tambah menebal. Ia kian merundung bila tumbuh pula cacar di badannya. Dari kecil ia membesar, dan dari sebiji-sebiji ia merata memenuhi badan. Di dalam cacar itu, menguning nanah busuk dan jelik baunya. Pada waktu yang sama, Normah mengidap darah tinggi pula.
Tekanan perasaan yang melampau itu menyebabkan Normah dibawa oleh ibu bapanya berjumpa dengan pakar jiwa. Bermacam-macam ubat dan rawatan diberikan tapi ternyata begitu sukar untuk dia dipulihkan.
Disebabkan badannya terlalu lemah, doktor mencadangkan supaya Normah bersalin melalui cara
pembedahan apabila usia kandungannya mencecah tujuh bulan lebih sedikit.
Pada waktu yang ditetapkan, Normah dimasukkan ke wad. Seminggu sebelum dibedah, dia mula meracau-racau dan meraung. Bermacam-macam dijeritkannya tanpa hujung pangkal. Dimaki hamunnya emak dan ayah seta jururawat yang datang. Kemudian Normah menangis pula hendak
balik dan melihat anak-anak.
Dalam keadaan yang kritikal itulah ayahnya, Pak Cik Shafie menelefon saya dan menceritakan keadaan anaknya itu secara ringkas.
" Pak cik tak mahu nak salahkan sesiapa. Dua-dua ada buat silap. Tapi sekarang ni pak cik minta ustaz usahakanlah ubat anak pak cik tu," katanya. Daripada suaranya itu saya tahu dia sedang menahan sebak.
" Saya di Sarawak sekarang ni pak cik. Dua hari lagi saya balik. Tapi buat sementara ni, usahakan baca Yasin dulu. Bila saya balik nanti, saya terus ke sana," jawab saya.
Sekembalinya ke Semenanjung saya terus menziarahi Normah. Keadaannya sama seperti yang diceritakan oleh bapanya.Mengerang kesakitan, meracau, meronta-ronta, dan bercakap tidak keruan. Keadannya ketika itu memang menyedihkan kerana dalam keadaan perut memboyot dia meraung seperti hilang akal.
Namun timbul pertanyaan di fikiran saya selepas dibacakan Yasin, keadaan Normah bertambah buruk. Keadaanya ibarat mencurah minyak ke api, makin disiram makin besar maraknya. Ibu bapa dan adik beradik Normah menangis milihat keadaan dirinya.
"Pak cik mana suami dengan anak-anaknya?" saya bertanya bila melihat suami dan anak-anak Normah tidak menziarahinya.
" Itulah yang saya nak cakap pada ustaz. Saya dah pujuk, rayu dia datanglah tengok anak saya ni. Kata saya, walau besar mana pun dosa anak saya, kalau dia menderhaka sekalipun, tapi dalam keadaan macam ni bukankah elok kalau dia di ampunkan? Tapi dia tak mau. Jengah pun tidak," kata Haji Shafie kesal.
"Dia marah lagi agaknya," saya menyambung. "Saya tau... kalau jadi pada kita pun kita marah. Saya
bukanlah nak salahkan dia, tapi yang sudak tu sudahlah. Anak saya pun bersalah, saya mengaku,"
tambah Haji Shafie.
"Kalau macam tu," tambah saya," bawa saya jumpa menantu pak cik tu. Insya-Allah kita sama-sama pujuk dia."
Seperti yang dipersetujui, beberapa hari kemudian saya dibawa oleh Haji Shafie berjumpa dengan
menantunya itu.
"Yang sudah tu sudahlah Lim, ampunkanlah dia. Normah tengah tenat tu," Haji Shafie merayu.
" Dua tahun dia tinggalkan kami anak beranak. Balik-balik, mengandung...suami mana yang tak marah, ayah ?. Mana saya nak letak muka saya ni ? Dayus, pucuk layu , tak ada punai, tak tau jaga bini, macam-macam lagi orang hina saya...' tambah Halim melepaskan segala yang terbuku di hati. Bermacam-macam lagi di rungutkan hingga tidak sanggup kami mendengarnya.
" Ayah faham perasaan kau. Ayah tau Normah yang salah, derhaka pada kau , tapi dia tengah tenat
sekarang ni," Haji Shafie merayu lagi , Halim tidak menjawab sepatah pun . Nafasnya saja yang turun naik manakala muka merah padam menahan marah.
Bila keberangan nya semakin reda saya menasihatkan Halim supaya melupakan perkara yang telah berlalu itu. "Mengampunkan orang lain lebih baik daripada membalas dendam . Isteri awak menderita sekarang ini pun sebab dia sudah sedar dengan kesalahan dia, jadi eloklah awak maafkan," kata saya.
Lalu saya ...hadis dan firman Allah berkaitan ...Ternyata Halim sudah berpatah arang berkerat rotan " Saya tak akan jenguk dan saya tak akan ampunkan dia. Isteri durhaka ! " katanya.
Sampailah hari Normah di bedah , Halim langsung tidak menjengukkan mukanya. Iffa dan Aina juga di larang daripada menjengah ibu mereka.
Bagaimanapun , di sebabkan keadaan Normah yang tenat, makan minum tidak menentu , bayi yang di lahirkannya meninggal dunia beberapa hari kemudian. Normah pula sejak sedar daripada pembedahan semakin teruk jadinya.
Setiap hari, terutamanya tengah malam dan senja dia akan meracau. Yang mengibkan , racauannya kini mendedahkan segala pelakuan jelik yang di lakukannya selama meninggalkan Halim dan anak-anak.
Antaranya, Normah menceritakan yang dia telah mengikut lelaki hingga ke Siam dan kemudian hidup
seperti suami isteri. Selepas berpisah dengan lelaki itu, dia bersekedudukan pula dengan lelaki lain. Tidak kurang dengan tiga lelaki telah dia berzina.
"Abang..ampunkanlah saya. Saya derhaka, saya jahat, saya malukan abang...maafkanlah saya..."dia terus menangis dan meratap. Setiap hari bermacam-macam rahsia di dedahkannya; tentang tempat-tempat maksiat yang pernah dia pergi bersama teman lelaki, kawan-kawan lain yang sama saja perangai dengannya juga kekecewaannya bila di permainkan lelaki-lelaki terbabit.
"Abang, Iffa, Aina...marilah tengok emak . Emak tak jahat lagi,. Emak nak jadi baik. Emak nak jadi lawa, pandai, suka masak, kita pergi sungai..." ratapnya lagi bercampur dengan kata-kata yang melalut.
Tidak dapat hendak di gambarkan bagaimana malunya Haji Shafie dan isterinya setiap kali Normah
menelanjangkan keburukannya sendiri. Berbagai-bagai cara mereka lakukan supaya Normah berhenti meracau seperti menutup mulut, memujuknya diam dan kadangkala turut sama bercakap supaya orang-orang di sekeliling tidak mendengar , tetapi usaha itu tidak berhasil.
Setelah hampir sebulan Normah mendedahkan kecurangannya, keadaan wanita itu bertambah parah
Tekanan darahnya menurun dan kerap tidak sedarkan diri. Badannya yang kurus makin melidi kerana Normah tidak mahu menjamah makanan . Yang di lakukan sepanjang hari hanyalah menangis dan meminta ampun kepada Halim. Setelah itu dia kembali terkulai tidak sedarkan diri.
Haji Shafie sekali lagi menemui saya.
"Ustaz pujuklah menantu saya tu. Mintalah dia datang jenguk Normah dan ampunkan lah kesalahan dia. Memang anak saya bersalah , tapi dalam keadaan sekarang , Cuma keampunan suami saja yang boleh selamatkan dia," kata haji Shafie. Isterinya sejak tadi saya tengok tiada berhenti-henti mengesat air mata .
" Kalau begitu, mari kita pergi jumpa Halim," kata saya.
Puas kami memujuknya . Alhamdulillah, setelah berbagai-bagai alas an di beri, akhirnya Halim
bersetuju. Bagaimanapun saya lihat dia seperti terpaksa saja. Langkahnya berat dan nampak kurang
ikhlas.
" Sudahlah Lim, lupakan yang lepas-lepas. Buangkan dendam, gantikan dengan kemaafan. Insya-Allah, semua pihak akan dapat keberkatanNya," kata saya semasa Halim hendak memasuki kereta. Dia cuma tersenyum tawar.
Demi terpandang saja Halim datang menjenguk, Normah dengan suara yang amat lemah memohon maaf kepada suaminya itu.
" Sa..sa..ya der...haa..ka pada abaaaang.." katanya antara dengar dengan tidak. Sambil air mata jatuh berlinangan , dia mengangkat tangannya untuk meminta maaf, tapi terlalu sukar. Ibunya cepat-cepat membantu.
" Yalah..."jawab Halim perlahan lantas menyambut tangan Normah. Reaksinya masih tawar. Dia belum benar-benar ikhlas.
Petang itu kami bersama-sama membacakan surah Yasin dan ayat-ayat suci al-Quran untuk Normah yang kelihatan semakin teruk. Bagaimana pun bila Normah meminta ampun sekali lagi, saya lihat Halim semakin ikhlas menyambutnya. Saya tersenyum. Mungkin hatinya sudah sejuk melihat penderitaan Normah.
Lebih kurang pukul 5.00 petang saya meminta diri kerana ada urusan penting. Sebelum pulang saya
berpesan; " Lim, sekarang ni awak saja yang boleh selamatkan Normah. Dia harapkan sangat keampunan daripada awak. Selepas itu, serahkan kepada Allah. Kalau sembuh, alhamdulillah, kalau tidak biarlah dia pergi dengan aman ".
" Terima kasih ustaz," balas Halim.
Seminggu kemudian Halim datang ke rumah saya dan memaklumkan bahawa Normah telah meninggal dunia . Bagaimanapun , dia membawa juga kisah yang menginsafkan mengenai pemergian Normah.
"Ustaz," Halim memulakan ceritanya, " malam tu Cuma tinggal saya dan anak-anak saja duduk di tepi Normah. Ibu dan bapa dia ke kantin untuk makan. Bila saya bacakan Yasin , saya tengok air mata arwah mengalir setitik demi setitik. Saya tau dia benar-benar insaf dengan kesalahannya dulu, curang pada saya, derhaka pada suami, tinggalkan anak-anak.
' Sampai di ayat salamun qaulam mirrabir rahim, saya ulang tiga kali. Setelah habis, saya usap dahi arwah. Saya lakukannya dengan ikhlas sebab tidak sampai hati tengok hati dia menderita.
" Setelah menciumnya tiga kali tiba-tiba dia nazak. Nafasnya di tarik dalam-dalam tapi nampak susah sangat. Sekejap kemudian nafasnya laju, tapi lepas itu lambat betul. Saya cemas. Dah dekat ke ?
" Tiba-tiba Aina menangis . Entah apa yang di gaduhkan dengan kakaknya saya pun tak tau . Kuat betul dia menangis sampai saya tak sanggup nak dengar.
" Berbelah bagi juga sama ada antara anak dan isteri yang tengah sakit, tapi bila fikirkan tangisan budak itu mengganggu pesakit lain, saya terus ambil Aina dan pujuk dia. Susah pula nak pujuk dia hari tu sampai terpaksa dukung dan bawa ke luar wad."
" Namun bila kembali ke wad, saya dapati Normah dah tidak bernafas lagi.
" Luka memang berdarah lagi, ustaz, tapi bila dia meninggal tanpa ada sesiapapun di sebelahnya, menitis juga air mata saya. Yalah, kalau orang lain pergi dengan baik, ada orang tolong bisikan syahadah, bacakan Yasin, dia pula pergi macam tu. Agaknya itulah balasan untuk isteri yang derhaka '.
semoga cita dibawah ada manfaatnya..
Akhirnya setelah dua tahun menghilang diri, Normah kembali ke rumahnya. Seperti dahulu, dia masih cantik bergaya. Lenggoknya masih gemalai, pinggang masih ramping, gincu masih merah dan mekap masih tebal. Jika berselisih, aroma pewanginya masih kuat menusuk hidung.
Namun bezanya, Normah kelihatan tidak begitu ceria. Zahirnya dia begitu anggun tapi wajahnya terlukis warna yang muram dan lesu. Tutur katanya perlahan dan tidak bermaya seperti orang keresahan.
"Kenapa awak balik? Pergilah ikut jantan. Awak tak ada pun saya boleh jaga anak-anak kita ni!!" jerkah suaminya, Halim sebaik melihat Normah pulang dengan menjinjing sebuah beg besar.
Normah tidak menjawab kerana dia tahu, itu memang salahnya. Dia Cuma berdiri di pintu dan menundukkan muka. Halim sebaliknya terus membelasah isterinya itu dengan kata-kata keras. Sudah lama geram itu menggelodak di hati, lalu inilah masa untuk melepaskannya.
Normah masih terpaku di muka pintu. Dikesat air mata yang bergenang. Tiada sepatah perkataan pun di balasnya kata-kata Halim itu kerana hajatnya pulang bukanlah untuk bertengkar. Hasratnya Cuma satu, untuk pulang ke pangkuan suami dan anak-anak.
Jika diikutkan hati memang hendak dihalaunya Normah, tapi disebabkan anak-anak, Halim menahan juga kemarahannya. Dibiarkan Normah masuk ke rumah yang telah lebih dua tahun ditinggalkannya itu.
Bagi Halim, kepulangan Normah tidak membawa apa-apa erti lagi dalam hidupnya. Malah ia cuma memulakan semula kekalutan yang sudah dirungkaikannya, mengeruhkan hidup yang mula jernih dan memarakkan semula api yang telah dipadamkan.
Dua tahun dahulu, Normah meninggalkan Halim dan dua anaknya, Iffa, 5, dan Aina, 2.Yang ditinggalkan hanyalah sekeping nota menyatakan yang dia ingin hidup bersama kekasihnya.
" Saya rasa kita dah tak ada persefahaman lagi. Saya mahu hidup bahagia dengannya" demikian antara lain nota yang ditinggalkannya untuk Halim.
Kesalnya dia dengan tindakan Normah tidak terkata. Halim akui sejak akhir-akhir ini Normah sudah berubah. Kalau dulu layanannya begitu baik, sekarang mula dingin. Pantang silap sedikit, mulalah naik angin. Kata-katanya pula, selalu saja diiringi sindiran. Sudahlah begitu, sering pula Normah meminta barang-barang mewah di luar kemampuan Halim. Itulah yang menghairankan Halim.
Lama-kelamaan, Halim terhidu pula berita Normah menjalin hubungan sulit dengan lelaki berada. Dia ada bertanya tentang hal itu, namun Normah pantas menafikannya. Walaupun Halim menekannya dengan cerita dan bukti-bukti, tapi Normah tetap tidak menidakkannya. Malah dituduh pula suaminya cemburu buta.
Nah, sekarang terbukti sudah kebimbangannya itu. Tapi apa yang boleh dilakukan, nasi sudah menjadi bubur.
Sejak Normah meninggalkannya, hidup Halim tidak terurus. Terpaksalah dia membesarkan anaknya itu sendirian. Dialah ibu dialah bapa. Dengan gajinya sebagai penyelia kilang yang tidak seberapa dan menyewa pula di sebuah rumah di pinggir Kuala Lumpur, tentulah sukar untuk dia menguruskan hidup.
Kalau kanak-kanak lain selalu bertukar pakaian, anak-anaknya dengan baju dua tiga pasang itulah.
Makan yang mewah jauh sekali, kecuali apabila dia mendapat gaji.
Rutin hidupnya, awal pagi menghantar anak-anaknya ke rumah ibunya dan malam menjemput mereka pulang. Dialah yang memasak dan mengemas rumah. Kadangkala adik perempuannya turut membantu menguruskan keluarganya.
Memang hidpnya sukar, tapi Halim belum tergerak untuk berkahwin lagi. Baginya, biar susah macam mana pun, semua halangan itu akan dirempuhinya. Tambahan pula Normah masih tidak diceraikan.
Halim juga mahu membuktikan kepada Normah bahawa tanpa wnita itu, dia boleh menguruskan keluarga. Dan juga, kalau kemewahan yang menyebabkan Normah meninggalkannya, Halim ingin buktikan bahawa tanpa wang yang banyak sekalipun dia boleh hidup bahagia.
Ternyata tanpa Normah, Halim mampu membesarkan anak-anaknya seperti ibu bapa lain. Iffa dan Aina juga kian lama kian melupakan ibu mereka. Malah melihat gambar pun mereka benci.
Bukan Halim yang menghasut tapi kerana Normah sendiri yang bengis terhadap anak-anak.
Kerana itulah, kepulangan Normah membangkitkan semula kemarahan Halim. Tambahan pula Halim mendapati ada sesuatu yang tidak kena dengan perut Normah. Ia membuncit seperti sedang hamil. Bagaimanapun dia tidak mahu bertanya kepada wanita itu.
"Tempat awak di sana!" kata Halim menunjukkan Normah ke arah sebuah bilik kecil. Di dalamnya ada sebuah tilam bujang yang kusam. Bertompok sana, bertompok sini.
"Nak alas, cari sendiri," kata Halim, lalu menyindir "itupun kalau awak ingat kat mana nak cari...." Normah ditinggalkan sendirian.
Malam itu, Normah tidur seorang diri dalam bilik sempit dan penuh barang-barang. Sementara Halim tidur bersama dua anaknya di bilik lain. Bila anak-anaknya pulang, Normah cuba membelai mereka tapi Iffa dan Aina segera menjauhkan diri. Dipujuk dengan bermacam-macam cara pun tidak berkesan. Terpaksalah Normah membawa diri ke dalam bilik dan menangis teresak-esak.
Begitulah keadaan mereka setiap hari. Normah menjadi orang asing di dalam rumahnya sendiri sementara Halim meneruskan hidup seperti biasa. Mereka tidur berasingan dan setiap pagi, anak-anak dihantar ke rumah ibunya tidak jauh dari situ.
Ternyata telahan Halim tepat. Dari sehari ke sehari dilihatnya perut Normah semakin membusung. Lain macam bulatnya. Setelah didesak dan dijerkah berkali-kali, Normah terpaksa mengaku dirinya berbadan dua.
"Aku dah agak. Patutlah awak balik...nak suruh aku jadi bapak pada budak tu, kan? Nak jadikan aku pak sanggup?" Halim melepaskan paku buah keras.
"Bukan macam tu bang, saya..." tapi belum pun sempat Normah menghabiskan cakap, Halim memintas " Saya apa?! Saya tak buat benda tak senonoh tu? Budak tu anak aku? Tolong sikit....bila masa aku sentuh badan kamu tu? Hah?"
Bagi menutup malu, Normah memakan makanan yang tajam, pedas dan berasid untuk menggugurkan kandungannya, tetapi gagal. Perutnya terus-menerus membesar.
Gagal cara itu, dia pergi ke klinik swasta pula. Bagaimanapun doctor tidak mengizinkan kerana risikonya terlalu tinggi. Kata doktor, kandungannya sudah besar dan jika digugurkan, ia boleh mengundang maut.
Semakin hari jiwa Normah semakin tertekan. Perut kian memboyot sedangkan anak dan suami pula tidak menghiraukan kehadirannya. Dia menjadi melukut di tepi gantang dalam rumah sendiri. Suami menjauhkan diri bila hendak mengadu dan anak pula tidak menganggapnya ibu untuk mereka bermanja.
Tidak ada jalan lain, Normah meminta Halim menghantarkan dia ke rumah ibunya. Tentu saja Halim
tidak membangkang. Memang itu yang dia mahukan. Namun sambutan ibu bapanya juga mengecewakan.
"Dua tahun kamu tinggalkan suami dan anak, tiba-tiba baru dua bulan balik perut kamu dah besar macam ni. Huh...memang patut pun Halim buat macam ni. Kamu derhaka pada dia!" kata bapa Normah, Haji Shafie bila mendapati anaknya itu hamil.
Dari sehari ke sehari tekanan perasaannya tambah menebal. Ia kian merundung bila tumbuh pula cacar di badannya. Dari kecil ia membesar, dan dari sebiji-sebiji ia merata memenuhi badan. Di dalam cacar itu, menguning nanah busuk dan jelik baunya. Pada waktu yang sama, Normah mengidap darah tinggi pula.
Tekanan perasaan yang melampau itu menyebabkan Normah dibawa oleh ibu bapanya berjumpa dengan pakar jiwa. Bermacam-macam ubat dan rawatan diberikan tapi ternyata begitu sukar untuk dia dipulihkan.
Disebabkan badannya terlalu lemah, doktor mencadangkan supaya Normah bersalin melalui cara
pembedahan apabila usia kandungannya mencecah tujuh bulan lebih sedikit.
Pada waktu yang ditetapkan, Normah dimasukkan ke wad. Seminggu sebelum dibedah, dia mula meracau-racau dan meraung. Bermacam-macam dijeritkannya tanpa hujung pangkal. Dimaki hamunnya emak dan ayah seta jururawat yang datang. Kemudian Normah menangis pula hendak
balik dan melihat anak-anak.
Dalam keadaan yang kritikal itulah ayahnya, Pak Cik Shafie menelefon saya dan menceritakan keadaan anaknya itu secara ringkas.
" Pak cik tak mahu nak salahkan sesiapa. Dua-dua ada buat silap. Tapi sekarang ni pak cik minta ustaz usahakanlah ubat anak pak cik tu," katanya. Daripada suaranya itu saya tahu dia sedang menahan sebak.
" Saya di Sarawak sekarang ni pak cik. Dua hari lagi saya balik. Tapi buat sementara ni, usahakan baca Yasin dulu. Bila saya balik nanti, saya terus ke sana," jawab saya.
Sekembalinya ke Semenanjung saya terus menziarahi Normah. Keadaannya sama seperti yang diceritakan oleh bapanya.Mengerang kesakitan, meracau, meronta-ronta, dan bercakap tidak keruan. Keadannya ketika itu memang menyedihkan kerana dalam keadaan perut memboyot dia meraung seperti hilang akal.
Namun timbul pertanyaan di fikiran saya selepas dibacakan Yasin, keadaan Normah bertambah buruk. Keadaanya ibarat mencurah minyak ke api, makin disiram makin besar maraknya. Ibu bapa dan adik beradik Normah menangis milihat keadaan dirinya.
"Pak cik mana suami dengan anak-anaknya?" saya bertanya bila melihat suami dan anak-anak Normah tidak menziarahinya.
" Itulah yang saya nak cakap pada ustaz. Saya dah pujuk, rayu dia datanglah tengok anak saya ni. Kata saya, walau besar mana pun dosa anak saya, kalau dia menderhaka sekalipun, tapi dalam keadaan macam ni bukankah elok kalau dia di ampunkan? Tapi dia tak mau. Jengah pun tidak," kata Haji Shafie kesal.
"Dia marah lagi agaknya," saya menyambung. "Saya tau... kalau jadi pada kita pun kita marah. Saya
bukanlah nak salahkan dia, tapi yang sudak tu sudahlah. Anak saya pun bersalah, saya mengaku,"
tambah Haji Shafie.
"Kalau macam tu," tambah saya," bawa saya jumpa menantu pak cik tu. Insya-Allah kita sama-sama pujuk dia."
Seperti yang dipersetujui, beberapa hari kemudian saya dibawa oleh Haji Shafie berjumpa dengan
menantunya itu.
"Yang sudah tu sudahlah Lim, ampunkanlah dia. Normah tengah tenat tu," Haji Shafie merayu.
" Dua tahun dia tinggalkan kami anak beranak. Balik-balik, mengandung...suami mana yang tak marah, ayah ?. Mana saya nak letak muka saya ni ? Dayus, pucuk layu , tak ada punai, tak tau jaga bini, macam-macam lagi orang hina saya...' tambah Halim melepaskan segala yang terbuku di hati. Bermacam-macam lagi di rungutkan hingga tidak sanggup kami mendengarnya.
" Ayah faham perasaan kau. Ayah tau Normah yang salah, derhaka pada kau , tapi dia tengah tenat
sekarang ni," Haji Shafie merayu lagi , Halim tidak menjawab sepatah pun . Nafasnya saja yang turun naik manakala muka merah padam menahan marah.
Bila keberangan nya semakin reda saya menasihatkan Halim supaya melupakan perkara yang telah berlalu itu. "Mengampunkan orang lain lebih baik daripada membalas dendam . Isteri awak menderita sekarang ini pun sebab dia sudah sedar dengan kesalahan dia, jadi eloklah awak maafkan," kata saya.
Lalu saya ...hadis dan firman Allah berkaitan ...Ternyata Halim sudah berpatah arang berkerat rotan " Saya tak akan jenguk dan saya tak akan ampunkan dia. Isteri durhaka ! " katanya.
Sampailah hari Normah di bedah , Halim langsung tidak menjengukkan mukanya. Iffa dan Aina juga di larang daripada menjengah ibu mereka.
Bagaimanapun , di sebabkan keadaan Normah yang tenat, makan minum tidak menentu , bayi yang di lahirkannya meninggal dunia beberapa hari kemudian. Normah pula sejak sedar daripada pembedahan semakin teruk jadinya.
Setiap hari, terutamanya tengah malam dan senja dia akan meracau. Yang mengibkan , racauannya kini mendedahkan segala pelakuan jelik yang di lakukannya selama meninggalkan Halim dan anak-anak.
Antaranya, Normah menceritakan yang dia telah mengikut lelaki hingga ke Siam dan kemudian hidup
seperti suami isteri. Selepas berpisah dengan lelaki itu, dia bersekedudukan pula dengan lelaki lain. Tidak kurang dengan tiga lelaki telah dia berzina.
"Abang..ampunkanlah saya. Saya derhaka, saya jahat, saya malukan abang...maafkanlah saya..."dia terus menangis dan meratap. Setiap hari bermacam-macam rahsia di dedahkannya; tentang tempat-tempat maksiat yang pernah dia pergi bersama teman lelaki, kawan-kawan lain yang sama saja perangai dengannya juga kekecewaannya bila di permainkan lelaki-lelaki terbabit.
"Abang, Iffa, Aina...marilah tengok emak . Emak tak jahat lagi,. Emak nak jadi baik. Emak nak jadi lawa, pandai, suka masak, kita pergi sungai..." ratapnya lagi bercampur dengan kata-kata yang melalut.
Tidak dapat hendak di gambarkan bagaimana malunya Haji Shafie dan isterinya setiap kali Normah
menelanjangkan keburukannya sendiri. Berbagai-bagai cara mereka lakukan supaya Normah berhenti meracau seperti menutup mulut, memujuknya diam dan kadangkala turut sama bercakap supaya orang-orang di sekeliling tidak mendengar , tetapi usaha itu tidak berhasil.
Setelah hampir sebulan Normah mendedahkan kecurangannya, keadaan wanita itu bertambah parah
Tekanan darahnya menurun dan kerap tidak sedarkan diri. Badannya yang kurus makin melidi kerana Normah tidak mahu menjamah makanan . Yang di lakukan sepanjang hari hanyalah menangis dan meminta ampun kepada Halim. Setelah itu dia kembali terkulai tidak sedarkan diri.
Haji Shafie sekali lagi menemui saya.
"Ustaz pujuklah menantu saya tu. Mintalah dia datang jenguk Normah dan ampunkan lah kesalahan dia. Memang anak saya bersalah , tapi dalam keadaan sekarang , Cuma keampunan suami saja yang boleh selamatkan dia," kata haji Shafie. Isterinya sejak tadi saya tengok tiada berhenti-henti mengesat air mata .
" Kalau begitu, mari kita pergi jumpa Halim," kata saya.
Puas kami memujuknya . Alhamdulillah, setelah berbagai-bagai alas an di beri, akhirnya Halim
bersetuju. Bagaimanapun saya lihat dia seperti terpaksa saja. Langkahnya berat dan nampak kurang
ikhlas.
" Sudahlah Lim, lupakan yang lepas-lepas. Buangkan dendam, gantikan dengan kemaafan. Insya-Allah, semua pihak akan dapat keberkatanNya," kata saya semasa Halim hendak memasuki kereta. Dia cuma tersenyum tawar.
Demi terpandang saja Halim datang menjenguk, Normah dengan suara yang amat lemah memohon maaf kepada suaminya itu.
" Sa..sa..ya der...haa..ka pada abaaaang.." katanya antara dengar dengan tidak. Sambil air mata jatuh berlinangan , dia mengangkat tangannya untuk meminta maaf, tapi terlalu sukar. Ibunya cepat-cepat membantu.
" Yalah..."jawab Halim perlahan lantas menyambut tangan Normah. Reaksinya masih tawar. Dia belum benar-benar ikhlas.
Petang itu kami bersama-sama membacakan surah Yasin dan ayat-ayat suci al-Quran untuk Normah yang kelihatan semakin teruk. Bagaimana pun bila Normah meminta ampun sekali lagi, saya lihat Halim semakin ikhlas menyambutnya. Saya tersenyum. Mungkin hatinya sudah sejuk melihat penderitaan Normah.
Lebih kurang pukul 5.00 petang saya meminta diri kerana ada urusan penting. Sebelum pulang saya
berpesan; " Lim, sekarang ni awak saja yang boleh selamatkan Normah. Dia harapkan sangat keampunan daripada awak. Selepas itu, serahkan kepada Allah. Kalau sembuh, alhamdulillah, kalau tidak biarlah dia pergi dengan aman ".
" Terima kasih ustaz," balas Halim.
Seminggu kemudian Halim datang ke rumah saya dan memaklumkan bahawa Normah telah meninggal dunia . Bagaimanapun , dia membawa juga kisah yang menginsafkan mengenai pemergian Normah.
"Ustaz," Halim memulakan ceritanya, " malam tu Cuma tinggal saya dan anak-anak saja duduk di tepi Normah. Ibu dan bapa dia ke kantin untuk makan. Bila saya bacakan Yasin , saya tengok air mata arwah mengalir setitik demi setitik. Saya tau dia benar-benar insaf dengan kesalahannya dulu, curang pada saya, derhaka pada suami, tinggalkan anak-anak.
' Sampai di ayat salamun qaulam mirrabir rahim, saya ulang tiga kali. Setelah habis, saya usap dahi arwah. Saya lakukannya dengan ikhlas sebab tidak sampai hati tengok hati dia menderita.
" Setelah menciumnya tiga kali tiba-tiba dia nazak. Nafasnya di tarik dalam-dalam tapi nampak susah sangat. Sekejap kemudian nafasnya laju, tapi lepas itu lambat betul. Saya cemas. Dah dekat ke ?
" Tiba-tiba Aina menangis . Entah apa yang di gaduhkan dengan kakaknya saya pun tak tau . Kuat betul dia menangis sampai saya tak sanggup nak dengar.
" Berbelah bagi juga sama ada antara anak dan isteri yang tengah sakit, tapi bila fikirkan tangisan budak itu mengganggu pesakit lain, saya terus ambil Aina dan pujuk dia. Susah pula nak pujuk dia hari tu sampai terpaksa dukung dan bawa ke luar wad."
" Namun bila kembali ke wad, saya dapati Normah dah tidak bernafas lagi.
" Luka memang berdarah lagi, ustaz, tapi bila dia meninggal tanpa ada sesiapapun di sebelahnya, menitis juga air mata saya. Yalah, kalau orang lain pergi dengan baik, ada orang tolong bisikan syahadah, bacakan Yasin, dia pula pergi macam tu. Agaknya itulah balasan untuk isteri yang derhaka '.
selamat hari ibu buat bonda tersayang...
ibu..
bergenang air mataku..
terbayang wajahmu yang redup sayu..
kudusnya kasih yang engkau hamparkan..
bagaikan laut yang tak bertepian..
biarpun kepahitan telah engkau rasakan..
tdak pun kau merasa jemu..
mengasuh dan mendidik kami semua anakmu..
dari kecil hingga dewasa..
hidupmu kau korbankan..
biarpun dirimu yang telah terkorban..
tak dapat ku balasi..
akan semua ini..
semoga Tuhan memberkati hidupmu IBU..
ibu..
kau ampunilah dosaku.
andainya pernah menghiris hatimu..
restumu yang amat aku harapkan..
kerna di situ letak syurgaku..
tabahnya melayani kenakalan anakmu..
mengajarku erti kesabaran,,
kau bagai pelita di kala aku kegelapan..
menyuluh jalan kehidupan..
thanks for all your love ummi...
in the name of Allah..
Subscribe to:
Posts (Atom)

